61 Tahun Pemberontakan PKI Ideologi Komunis tak Pernah Mati

Selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, isu PKI seakan lenyap ditelan bumi alias tiarap. Berbeda 180 derajat ketika 10 tahun di bawah rezim Jokowi, PKI yang melakukan percobaan kudeta 30 September 1965 seakan-akan menjadi pahlawan. Betapa tidak, melalui serangkaian kebijakan Jokowi jelas-jelas menguntungkan PKI.

Di antaranya Keppres No 17 tahun 2022 yang berisi sekaligus permintaan maaf kepada PKI, mengadakan rehabilitasi dan bantuan sosial kepada para penyintas HAM termasuk korban peristiwa 1965-1966. Belum lagi terjadinya editing tentang sejarah G30S/PKI yang mulai dihapus dari kurikulum. Kemudian muncul RUU rekonsiliasi dan litsus ditiadakan. Yang terbaru agama akan dihilangkan dari kurikulum pendidikan. Tapi setelah diprotes tak sampai terjadi, namun tetap ada upaya untuk itu. Bahkan ada partai yang menyekolahkan kader-kadernya ke Partai Komunis China.

Jika selama 10 tahun Jokowi berkuasa, PKI dan generasi penerusnya berpesta pora, lain halnya ketika naiknya Prabowo ke tampuk kekuasaan. Selama dua tahun pemerintahan Prabowo, bukan berarti PKI lenyap ditelan bumi. Sebab tokoh boleh mati tetapi ideologi tetap ada yang mewarisi. Kini PKI terus bergeriliya menjalankan berbagai agenda. Banyak fakta dan data menunjukkan bahwa cara-cara dan strategi PKI terus dikembangkan di Bumi Pertiwi.

Sebab kini PKI tidak perlu membentuk parpol sendiri tetapi antek-anteknya menyusup ke partai-partai yang ada. Tidak saja itu, generasi baru PKI juga menyusup ke lembaga vital seperti TNI/Polri dan pemerintahan. Apa buktinya? Bukan sekali dua, ada pejabat yang menekan lembaga penyiaran agar tidak memutar film G30S/PKI pada tanggal 30 September. Itu artinya agar generasi muda lupa akan kekejaman PKI pada tahun 1965 silam.

Di antara cara-cara dan strategi PKI yang terus digencarkan adalan mengadu domba dan menghasut umat antaragama, antarsuku dan ras. Melakukan fitnah terhadap tokoh-tokoh yang anti PKI. Lalu yang paling fatal adalah memperlebar kesenjangan antara si kaya dengan si miskin sehingga berkembang kemiskinan struktural. Hanya rakyat yang miskin mudah dihasut dan diadu domba. Belum lagi jika kita perhatikan peredaran miras dan narkoba yang kian melesat di kalangan generasi muda agar mereka teler dan tolol dan lupa agama sehingga mudah dirasuki ideologi atheis.

Ideologi Pancasila yang menjadi perekat dan pemersatu bangsa yang beragam ini seakan dilupakan, tidak banyak dibahas dan dibicarakan. Sosialisasi empat pilar oleh MPR yang sebelumnya masif kini sudah tidak terdengar lagi. Apalagi penataran P4 sebagaimana dijalankan oleh pemerintahan Orde Baru.

Singkat kata ‘gerakan bawah tanah’ PKI gaya baru terus merasuki berbagai elemen bangsa. Dari data dan fakta di atas, kita anak bangsa yang masih cinta NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 jangan sampai lengah. Penulis masih ingat betul ketika di awal tahun 1965, ada tajuk rencana Majalah Sket Massa menampilkan judul Ibu Pertiwi Hamil Tua yang isinya menguraikan sejumlah indikator bahwa pertentangan PKI dengan ABRI kian menganga. Hanya berselang tujuh bulan kemudian benar-benar terjadi, Ibu Pertiwi Bersimbah Darah. Dua kali terjadi perang dunia, jumlah jenderal yang mati tidak sebanyak dalam peristiwa G30S/PKI tersebut.

Artinya, pemberontakan PKI akhir September 1965 tersebut lebih luar biasa dibandingkan dengan dua kali perang dunia yang melibatkan semua negara besar di dunia ini. Apalagi kemudian, jika kita hitung penduduk sipil yang mati dibunuh, baik sebelum pemberontakan atau pun setelahnya juga mungkin lebih besar dibandingkan dengan perang dunia.

Jadi jika kita anak bangsa masih tidak waspada maka yakinlah pada suatu saat komunis akan kembali berkuasa di Indonesia. Dan bukan tidak mungkin nasib umat Islamterutama– akan diperlakukan seperti Muslim Uighur oleh pemerintah komunis Tiongkok sat ini. (Syfanijal Datuk/Pemred)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *