Penengahan, etalaseinfo.co.id – Miris Dua Wanita emak-emak bahkan sudah nenek-nenek terpaksa ngasak (cari sisa) padi sisa mesin perontok ditengah sawah.
Musim panen raya tidak hanya di tunggu oleh para pemilik sawah dan pedagang, para emak-emak bahkan nenek-nenek yang ada di desa sangat berharap panen segera tiba dan mereka bisa mengais rezeki dari sisa-sisa alat Perontok padi di tengah sawah, seperti terlihat di sawah milik Kamto di Desa Pasuruan bawah Lam-sel.
Seperti terlihat awak media ini, di Tengah sawah Di perbatasan Desa Ruang Tengah dan Desa Pasuruan Kecamatan Penegahan, para emak-emak dan Nenek-nenek yang Katanya hidupnya serba kekurangan ini begitu bersemangat walaupun harus berada di tengah panas teriknya matahari.
Awalnya diantara Ibu-Ibu ini tertunduk malu saat lensa camera awak media mencoba mengambil gambar tatkala mereka sedang melakukan aktifitasnya (Ngasak) Mengambil rontokan sisa padi Dos Perontok di tengah sawah.
Juminah (70) Warga Dusun 06 Desa Pasuruhan Kecamatan Penengahan, Seumur ini ia mengaku tidak pernah lagi mendapatkan Bantuan dari pemerintah.

Dulu embah sudah pernah dapat sekarang gantian, Tapi hebatnya seumuran dia yang sudah nenek-nenek, dia adalah salah satu warga yang sering memanfaatkan waktu datangnya panen raya untuk Ngasak mengais rejeki sisa dos Perontok padi di tengah sawah yang tercecer ditinggalkan pemiliknya.
“Alhamdulillah adanya panen raya saat ini begitu membuat kami sebagai orang kecil ini, bisa untuk menambah kebutuhan makan sehari -hari kami senang, Walaupun kami hanya Ngasak atau mencari sisa dan belas kasih dari pemilik sawah Alhamdulillah kami cukup bahagia,” tuturnya. Kamis 01 Mei 2025.
Saat ditanya kira-kira berapa kilo bisa di dapat dalam satu hari?. Dengan tersenyum malu Nenek Juminah menjawab ” Alhamdulillah dari beberapa tempat kami mengasak (mencari sisa) bisa dapat 5 kilo hingga 7 kilo satu hari.
Berapa orang yang yang juga sempat wartawan media ini temui menyampaikan ucapan syukur bisa mendapat rejeki dari ngasak.
“Alhamdulillah mas, kami bersukur saya selalu menemani embah Juminah yang sudah sepuh-sepuh ini masih bisa cari rejeki dengan belas ihsan dari pemilik lahan untuk kami ngasak, karena tanpa kepedulian para pemilik lahan kami pun tidak bisa berbuat apa-apa”. Ungkap yulirohana (41 th).
Ditambahkan Yuli Rohana, kami kadang minder Mas, Kehadiran Kami para tukang Ngasak ini kadang membuat risih sebagian pemilik sawah, namun masih ada saja para pemilik sawah yang peduli. Seru Yuli Rohana.
Para Ibu-ibu ini, tidak hanya datang dari satu desa, ibu-ibu ini sanggup berpanas panasan hanya mencari sisa dari penggilingan padi yang dilakukan langsung di sawah Kadang kami malu, belum dapet di kasih sekilo kadang dua kilo.
Tanpa mengenal lelah mereka bekerja keras dari pagi jam 07,00 hingga sore hari, kadang hingga ba’da Ashar belum juga pulang, semata hanya ingin dapur tetap berasap dan anak-anak tetap bisa makan mas kata Yuli dengan nada pelan agak malau malu. (Ser-Jun)
