Jakarta, etalaseinfo.co.id – Berita penembakan kandidat presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat berkampanye untuk maju lagi dalam pemilihan presiden mengentak seluruh dunia. Trump yang juga pernah menjabat Presiden AS periode 2017-2021 sejatinya merupakan tokoh penting yang selalu mendapat pengawalan ketat dari Agen Dinas Rahasia (Secret Service) AS. Sebagai mantan presiden yang sekarang mencalonkan diri lagi menjadi presiden, pengamanan ini selalu melekat ke mana pun ia pergi. Dinas Rahasia AS merupakan institusi yang bertanggung jawab pada keamanan pejabat tinggi di AS, seperti fungsi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di Indonesia.
Pengamanan presiden di negara mana pun akan selalu ketat karena selain sebagai kepala negara atau pemerintahan, presiden juga simbol negara yang harus dijaga. Oleh karena itu, calon presiden juga sudah diperlakukan sebagai calon pemimpin negara yang harus dilindungi. Kegiatan keseharian pun penuh denganprotokoler keamanan, termasuk saat di ruang publik.
Dengan ketatnya pengamanan tersebut, terjadinya upaya penembakan menimbulkan banyak pertanyaan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Terlebih lagi pada mantan presiden di negara yang dikenal memiliki sistem keamanan salah satu yang terkuat di dunia
Kabar peristiwa penembakan tersebut dalam waktu singkat menyebar ke penjuru dunia. Cuplikan video rekaman serta foto-foto saat penembakan terjadi menjadi bahan berita dan perbincangan warga dunia. Di era media sosial dan kecanggihan teknologi digital, hal ini lumrah dan langsung menuai reaksi publik.
Salah satu foto peristiwa penembakan yang viral adalah karya jurnalis foto senior kantor berita Associated Press, Evan Vucci, yang menggambarkan Trump dengan wajah terciprat darah masih mengepalkan tangan kepada pendukungnya. Pada saat bersamaan, personel Agen Dinas Rahasia AS mengelilinginya untuk melindungi dan mengevakuasi dari panggung kampanye sebagai antisipasi jika masih ada ancaman berikutnya.
Foto karya Vucci menjadi ikon di peristiwa tersebut karena selain bernilai berita tinggi juga sempurna secara teknik fotografi. Dari komposisi, sudut pengambilan gambar, serta momentum yang terekam secara keseluruhan dapat mewakili peristiwa yang akan dicatat sebagai sejarah kelam di dunia politik AS.
Sesungguhnya, Vucci tidak hanya mengambil foto tersebut. Di laman kantor berita AP Photo ada puluhan foto Vucci yang dipublikasikan. Foto ikonik tersebut hanya salah satu dari rekaman yang didapat Vucci.
Dalam sebuah rekaman wawancara yang dipublikasikan di akun media sosial CNN, Vucci menceritakan dia saat itu mendapat tugas meliput kampanya. Dia berada di sebelah kanan panggung saat Trump mulai berpidato. Semua berjalan normal sampai tiba-tiba ia mendengar suara tembakan. Kemudian, ia melihat Agen Dinas Rahasia langsung mengelilingi Trump yang tertelungkup di panggung.
Menyadari ada kejadian tersebut Vucci sempat kaget, tetapi sebagai fotografer dia sadar akan tugasnya untuk merekam semua dengan kameranya. Dan, dalam hitungan detik ia mulai berpikir apa yang akan terjadi berikutnya. ”Saya berpikir akan ada evakuasi dan mulai bergerak ke arah sisi lain panggung untuk memotret. Saat itu saya melihat ada darah di wajah Trump dan dia masih bisa mengepalkan tangannya ke atas. Itulah momen yang tak boleh terlewat,” ujar fotografer yang pernah meraih penghargaan Pulitzer itu.
Dalam rekaman video berita yang banyak terpublikasi, saat proses evakuasi Trump dari atas panggung terlihat ada beberapa fotografer yang bergerak dari sisi kiri menuju ke kanan untuk memotret Trump yang dievakusi turun panggung. Vucci ada di antara fotografer yang memotret tersebut.
Pada saat itulah, sebagai pewarta foto senior, naluri Vucci sebagai jurnalis sangat kuat. Ia tak memedulikan saat itu terjadi peristwa penembakan yang bisa mengancam nyawanya. Dengan nalurinya, fotografer yang sering bertugas meliput Presiden AS ini terus memotret untuk merekam peristiwa yang akan menjadi sejarah dalam kehidupan demokrasi AS.
Fotonya telah terpublikasi luas. Di berbagai platform media sosial, publik mengomentari foto Trump dengan wajah berdarah tapi masih mengepalkan tangan akan menjadi ikon sejarah. Dengan komposisi segitiga dan sudut pengambilan dari bawah serta latar belakang bendera AS, seolah mengingatkan kita pada foto zaman Perang Pasifik ketika tentara AS menegakkan tiang bendera di Iwo Jima pada 23 Februari 1945.
Donald Trump mengangkat tinju. Darah membasahi wajahnya. Langit tinggi, biru, dan kosong kecuali bendera Amerika yang tertiup angin kencang. Seorang Agen Dinas Rahasia melingkarkan lengannya di pinggang Trump. Mulut mantan presiden itu terbuka, di tengah teriakan yang menggeram. Dan, dalam rekaman video kita mendengar ia meneriakkan ”Lawan” yang dibalas pendukungnya dengan teriakan ”USA”.
Tyler Austin Harper, asisten profesor di Bates College, di laman The Atlantic menuliskan foto tersebut bisa menjadi legenda dan ikon sejarah. Sosok Trump yang selama ini dianggap penuh kontroversi dan seperti duri dalam demokrasi AS telah tampilmenjadi simbol kekuatan. ”Terdapat disjungsi yang menyimpang dan paradoks antara sosok Trump, yang menurut banyak orang merupakan ancaman bagi demokrasi Amerika, dan gambaran Trump ini, yang tampaknya mencerminkan demokrasi yang sama dengan segala patologi, mitos, dan kejayaannya,” katanya.
Selain Evan Vucci ada sejumlah pewarta foto yang juga berada di lokasi saat peristiwa penembkan tersebut terjadi. Salah satunya adalah Anna Moneymaker. Foto karyanya juga menunjukkan naluri dan kejelian sebagai pewarta foto.
Foto wajah Trump yang bersimbah darah yang tertunduk di lantai panggung dan terekam di antara kaki-kaki Agen Dinas Rahasia menunjukkan kejelian fotografer untuk mencari momen terbaik dari peristiwa itu. Foto tersebut menjawab tentang apa yang sebenarnya terjadi saat detik-detik peristiwa tersebut karena ketika Donald Trump tiba-tiba merunduk ke lantai tak seorang pun menyadari apa yang telah terjadi. Dan, sebagai pewarta foto tentu naluri untuk bersikap skeptis yang membuatnya harus mencari celah sekecil apa pun untuk memotret kedaaan terkini sumber berita utama.
Dalam dunia jurnalistik, ada ungkapan yang menyatakan ”tak ada berita seharga nyawa” untuk mengingatkan para jurnalis saat bekerja agar selalu mengutamakan keselamatan diri. Namun, dalam praktiknya, nasihat tersebut seakan terlupakan ketika ada peristiwa besar yang sedang terjadi. Keinginan dan naluri jurnalis untuk mendapatkan berita ataupun foto yang terbaik serta terkini seolah menyamarkan nasihat itu.
Apa yang dilakukan Evan Vucci, Anna Moneymaker, dan pewarta foto lainnya di peristiwa tersebut hanyalah sedikit contoh integritas seorang pewarta foto. Dengan risiko yang dihadapi di lapangan, mereka hanya ingin memberikan informasi teraktual bagi publik. Sudah banyak pewarta foto yang harus kehilangan nyawa dalam bertugas. Semua itu tak mengecilkan hati mereka untuk tetap berada di lapangan. Di saat terjadi bencana atau kekacauan dan semua orang menghindarinya, pewarta foto justru akan selalu berada di garis depan merekam peristiwa tersebut.
Apa pun yang dilakukan para pewarta foto tersebut hanyalah bagian dari tugasnya untuk menyampaikan kepada publik akan peristiwa yang terjadi. Pewarta foto yang baik harus bisa menghadirkan karya yang jika dipublikasikan membuat siapa pun yang melihat foto tersebut serasa berada langsung di lokasi. (Kompas)
