Harga Selisih Sedikit, Banyak Petani Sawah Beralih Ke jagung

Kalianda, etalaseinfo.comid – fenomena terjadi diKalianda dan sekitarnya dimana para petani padi beralih menjadi petani jagung hal itu dilakukan karena banyak faktor yang membuat mereka beralih salah satunya keluhan terhadap hama burung tatkala padi mulai menguning. disamping pengolahan lahannya yang tidak sulit, lebih santai cara perawatan dan kerjanya sangat beda dengan padi.

Perpindahan petani padi ke petani jagung juga karena tanaman jagung butuh air lebih sedikit, masa panen lebih cepat sekitar 3 hingga 4 bulan, serta biaya perawatan yang lebih murah. dan Faktor cuaca ekstrem apalagi sekarang musim kemarau, sulitnya mendapat air, dan harga jual yang stabil selisih dengan padi tidak jauh, membuat petani memilih pindah menanam jagung.

Latip (60) warga Kalianda mengatakan baru pertamakalinya mencoba menanam jagung karena merasa waktunya banyak luang kalau menanam jagung , setelah dihitung dari segi biayapun tidak jauh beda dan masih mahal padi menurutnya. untuk pengolahan lahan saja kalau sawah yang digarap selama ini kurang lebih 1 Ha bisa menghabiskan 1 jutaan sementara jagung hanya 850 ribu.

“kalau soal biaya tidak jauh selisihnya tapi sekarang saya lebih santai sejak menanam jagung ini, kalau soal hasil nanti kita lihat dulu karena baru pertama kalinya saya menenam jagung ini, liat aja disebalh kiti kanan lahan ini beralih juga ke jagung,”ujarnya.

Dikatakannya juga alasan lainya kenapa dia beralih menanam. jagung selisih harga tidak beda jauh, kalau kemaren dia jual padi 6.800/kg sedangkan harga jagung 6.200 walaupun masih mahal padi tapi diliat dari segi pengerjaan pengolahan lahannya jagung lebih ringan.

” Selisih sedikit, kita kalah diharga kalau jagung tapi menang dipengerjaannya makanya saya beralih , kalau nanti hasilnya memuaskan atau tidak saya tetap akan menanam jagung, ” pungkasnya.

Kepala Dina Pertanian Lampung Selatan Mugiono saat ditanya banyak petani padi beralih kejagung ini mengatakan tidak mempermasalahkan itu apalagi dimusim kemarau ini terutama daerah daerah yang suplay airnya kurang.

“Untuk daerah daerah yang suplay airnya tidak bisa mencukupi untuk tanaman padi, dimusim kemarau ini tidak masalah kalo petani menanam jagung,” ujarnya minggu (23/8) .

Saat ditanya bukan hanya soal air saja yang membuat petani padi beralih kejagung melainkan soal hama burung dan bagaimana solusinya dari dinas pertanian serta apakah tidak mengganggu stok padi di kabupaten ujung sumatra ini Kadis yang sebelumnya menjabat sebagai sekdin ini mengatakan hanya bisa dilakukan dengan penanaman serentak.

“Kalo burung dan bagaimana solusinya hanya bisa di lakukan, minimalisasi dampak serangan dengan cara tanam serentak, kemudian pada saat mulai ada bulir padi dilakukan pemasangan sarana sarana penghalau burung, seperti jaring, plastik, dan alat alat lain untuk pengusir burung, dan insaallah stok padi kita aman dan tidak terganggu, ” terangnya.(Da-Jn)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *